Rabu, 29 Desember 2010

Analisis Butir Item

BAB I
PENDAHULUAN

Salah satu tugas penting yang acap kali dan bahkan pada umumnya dilupakan oleh staf pengajar (guru, dosen dan lain-lain) adalah tugas melakukan evluasi terhadap alat pengkur yang telah digunakan untuk mengukur keberhasilan belajar dari para peserta didiknya (muridnya, siswa, mahasiswa dan lain-lain). Alat pengukur dimaksud adalah tes hasil belajar, yang sebagai mana telah kita maklumi, batang tubuhnya terdiri dari kumpulan butir-butir soal (=item).
Kenyataan sering kali menunjukkan bahwa apabila dalam tes hasil belajar di mana hasil belajar di mana hamper seluruh peserta tes “jatuh” (dalam arti: nilai-nilai hasil belajarnya sangat rendah, sehingga distribusi frekwensi nilai-nilai hasil belajar itu membentuk kurva a-simetrik miring ke kiri) maka tester (guru, dosen dan lain-lain) segera “manimpakan kesalahan” itu kepada testee (murid, sisiwa, mahasiswa, dan lain-lain) dengan menyatakan bahwa testee memang terdiri dari “anak-anak yang bodoh”.
Pernyataan yang dikemukakan oleh tester seperti telah dikemukakan di atas mungkin benar tetapi mungkin juga belum tentu tepat.
Sebaliknya tidak jarang terjadi dalam tes hasil belajar dimana testee hamper seluruhnya berhasil meraih nilai-nilai hasil tes yang sangat tinggi, sehingga distribusi hasil tes tersebut membentuk kurva a-simetrik miring ke kanan, maka tester segera merasa puas dan bangga karena ternyata tingkat penguasaannya terhadap materi tes tersebut sangat tinggi dan dengan segera tester menyatakan bahwa testee terdiri dari “anak-anak yang hebat”.








BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Analisis Item Soal
Pembicaraan tentang uji validitas dan reliabilitas tes seperti telah dikemukakan terdahulu merupakan suatu analisis tes yan bersifat makro. Sedangkan analisis terhadap item tes bersifat mikro. Analisis item soal merupkan suatu prosedur yang sistematis, yang akan memberikan informasi-informasi yang sangat khusus terhadap butir tes yang akan kita susun. Analisis item soal pada dasarnya bertujuan untuk mengetahui apakah setiap item soal benar-benar baik, sehingga diperlukan analisis terhadapnya.
Adapun secara rinci tujuan mengadakan nalisis item soal yaitu:
 Membantu kita dalam mengidentifikasikan butir-butir soal yang jelek.
 Memperoleh informasi yang akan dapat digunakan untuk menyempurnakan soal-soal untuk kepentingan lebih lanjut.
 Memperoleh gambaran secara selintas tentang keadaan yang kita susun.
Analisis item soal teruatama dapat dilakukan untuk tes objektif. Dimana tes objektif merupakan alat evaluasi (hasil belajar mengajar) yang mengukur kepada objek-objeknya. Hal ini tidak berarti bahwa tes uaraian tidak dapat di analisis, akan tetapi memang dalam menganalisis butir tes uraian belum ada pedoman secara standar.
Tentang kegunaan analisis terhadap item soal pada umumnya dilakukan terhadap beberapa hal yaitu:.
 Seberapa besar tingkat kesukaran pada butir/item soal
 Apakah butir item itu mampu membedakan kemampuan antara siswa pandai dan kurang pandai.
 Apakah butir item tersebut menggunakan distraktor yang baik atau belum?
Maka dari itu dengan analisis item soal dapat diperoleh informasi tentang kejelekan sebuah soal dan petunjuk untuk mengadakan perbaikan.

B. Teknik Menganalisis Item Soal
Penganalisisan terhadap butir-butir soal dapat dilakukan dari tiga segi yaitu
1. Teknik analisis kesukaran item soal
2. Teknik anallisis daya pembeda
3. Teknik analisis fungsi distraktor

1) Teknik analisis Kesukaran Item Soal

Bermutu atau tidanya butir-butir soal, pertama-tama dapat diketahui dari derajat kesukaran atau taraf kesulitan yang dimiliki oleh masing-masing butir item tersebut. Butir-butir tersebut dapat dinyatakan sebagai butir-butir item yang baik, apabila butir-butir item tersebut tidak terlalu sukar dan tidak pula terlalu mudah dengan kata lain derajat kesukaran item itu adalah sedang atau cukup.

Bilangan yang menunjukan sukar dan mudahnya sesuatu soal disebut indeks kesukaran (difficuly index). Besarnya indeks kesukaran antara 0,00 sampai dengan 1,0. Indeks kesukaran ini menunjukkan taraf kesukaran soal. Soal dengan indeks kesukaran 0,0 menunjukkan bahwa soal itu terlalu sukar, sebaliknya indeks 1,0 menunjukkan bahwa soalnya terlalu mudah.

Angka indeks kesukaran item ini dapat diperoleh dengan menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Dubois yaitu:
P =
Keterangan:
P : Angka indeks kesukaran item soal
Np : Banyaknya testee yang dapat menjawab dengan betul terhadap butir item yang bersangkutan
N : Jumlah testee yang mengikuti tes
Rumus lainnya adalah
P =
Keterangan:
P : Angka index kesukaran item
B : Banyaknya testee yang dapat menjawab dengan betul terhadap butir item yang bersangkutan
JS : Jumlah testee yang mengikuti tes
Menurut ketentuan yang sering diikuti, indeks kesukaran sering di klasifikasikan sebagai berikut:
Soal dengan P 0,00 sampai 0,30 adalah soal sukar
Soal dengan P 0,30 sampai 0,70 adalah soal sedang
Soal dengan P 0,70 sampai 1,00 adalah mudah

Contoh soal:
Ada 10 orang dengan nama kode A-J yang mengajarkan tes yang terdiri dari 10 soal. Jawaban tesnya di analisis dan tertera sebagai berikut ini:
1 = jawaban benar
0 = jawaban salah


Siswa Nomor soal Skor siswa
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
A 0 1 1 0 1 0 1 1 1 0 6
B 1 0 1 1 1 1 0 0 0 1 6
C 1 0 0 0 0 0 1 1 1 0 4
D 0 0 1 1 1 0 1 0 1 1 6
E 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 6
F 0 0 1 1 0 1 1 1 1 1 6
G 1 0 1 0 0 0 0 0 0 1 3
H 0 0 1 1 0 0 1 0 1 1 5
I 1 0 0 0 1 0 0 0 1 1 4
J 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 8
10= N/JS 6= Np/B 2= Np/B 8= Np/B 5= Np/B 6= Np/B 2= Np/B 7= Np/B 3= Np/B 8= Np/B 7= Np/B

Guna meringkas pembicaraan, perhatikanlah tabel yang menyajikan hasil-hasil perhitungan angka indeks kesukaran item nomor 1 sampai 10 yaitu:


Butir item nomor Angka indeks kesukaran interprestasi
1
Cukup (sedang)
2
Terlalu sukar
3
Terlalu mudah
4
Cukup (sedang)
5
Cukup (sedang)
6
Terlalu sukar
7
Cukup (sedang)
8
Terlalu sukar
9
Terlalu mudah
10
Cukup (sedang)

Dari hasil analisis yang dilakukan terhadap 10 butir item tersebut pada akhirnya dapat di katahui bahwa sebanyak 5 butir item termasuk dalam kategori item yang kwalitasnya baik, dalam arti: derajat kesuakaran itemnya cukup atau sedang yaitu butir item no: 1, 4, 5, 7, dan 10. butir-butir item yang termasuk kategori terlalu sukar adalah butir no: 2, 6, dan 8. Adapun butir item yang termasuk kategori mudah yakni butir no: 3 dan 9. Bararti 50% dari keseluruhan butir item yang diajukan dalam tes tersebut termasuk baik, sedangkan 50% setelahnya adalah termasuk item yang jelek, baik karena terlalu mudah maupun terlalu sulit.

2) Teknink Analisis Daya Pembeda
Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan antara siswa yang pandai (berkemampuan tinggi) dengan siswa yang bodoh (berkemampuan rendah).
Angka yang menunjukkan besarnya daya pembeda disebut indeks diskriminasi, disingkat D (d besar). Seperti halnya indeks kesukaran, indeks diskriminasi (daya pembeda) ini berkisar antara 0,00 sampai 1,00. hanya bedanya, indeks kesukaran tidak mengenal tanda negatif (-), tetapi pada indeks diskriminasi ada tanda negatif. Tanda negatif pada indeks diskriminasi digunakan jika sesuatu soal “terbaik” menunjukkan kualitas testee. Yaitu anak pandai disebut bodoh dan anak bodoh disebut pandai.

Dengan demikian ada tiga titik pada daya pembeda yaitu:
1,00
Bagi suatu soal yang dapat dijawab benar oleh siswa pandai maupun siswa bodoh, maka soal itu tidak baik karena tidak mempunyai daya pembeda. Demikian pula jika semua siswa baik pandai maupun bodoh tidak dapat menjawab dengan benar. Soal yang baik adalah soal yang dapat dijawab benar oleh siswa-siswa yang pandai saja.
Seluruh pengikut tes dikelompokkan menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok pandai atau kelompok atas (upper group) dan kelompok bodoh atau kelompok bawah (lower group).

Cara Menentukan Daya Pembeda (nilai D)
Untuk ini perlu dibedakan antara kelompok kecil (kurang dari 100) dan kelompok besar (100 orang keatas).
a) Untuk kelompok kecil
Seluruh kelompok testee dibagi dua sama besar , 50% kelompok atas dan 50% kelompok bawah.
Contoh:
Siswa
A
B
C
D
E Skor
9
8
7
7
6
F
G
H
I
J 5
5
4
4
3


Seluruh pengikut tes, dideretkan mulai dari skor teratas sampai terbawah, lalu dibagi dua.
b) Untuk Kelompok Besar
Mengingat biaya dan waktu untuk menganalisis, maka untuk kelompok besar biasanya hanya di ambil kedua kutubnya saja, yaitu 27% skor teratas sebagai kelompok atas ( ) dan 27% skor terbawah sebagai kelompok bawah ( ).
jumlah kelompok atas
jumlah kelompok bawah
Rumus untuk mencari D
Rumus untuk menentukan indeks diskriminasi adalah:

Di mana:
= jumlah peserta tes
banyaknya peserta kelompok atas
banyaknya peserta kelompok bawah
banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab soal itu dengan benar
banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab soal itu dengan benar
proporsi peserta kelompok atas yang menjawab benar (ingat, P sebagai indeks kesukaran)
proporsi peserta kelompok bawah yang menjawab benar

Contoh perhitungan:
Dari hasil analisis tes yang terdiri dari 10 butir soal yang dikerjakan oleh 20 orang siswa, terdapat dalam tabel sebagai berikut:
TABEL ANALISIS 10 BUTIR SOAL, 20 SISWA
siswa kelompok Nilai soal Skor siswa
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
A B 1 0 1 0 0 0 1 1 1 0 5
B A 0 1 1 1 1 1 0 0 1 1 7
C A 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 8
D B 0 0 1 0 0 1 1 1 1 0 5
E A 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 10
F B 1 1 0 0 0 1 1 1 1 0 6
G B 0 1 0 0 0 1 1 1 1 1 6
H B 0 1 1 0 0 1 0 1 1 1 6
I A 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 8
J A 1 1 1 1 0 0 1 0 1 1 7
K A 1 1 1 0 0 1 1 1 1 0 7
L B 0 1 0 1 1 0 0 1 1 0 5
M B 0 1 0 0 0 0 0 1 1 0 3
N A 0 0 1 0 1 1 1 1 1 1 7
O A 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 9
P B 0 1 0 0 0 1 0 0 1 0 3
Q A 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 8
R A 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 8
S B 1 0 1 0 0 1 1 1 1 0 6
T B 0 1 0 1 0 1 1 1 1 0 6
JUMLAH 11 15 12 8 6 16 15 17 20 10

Berdasarkan nama-nama siswa dapat kita peroleh skor-skor sebagai berikut:
A = 5 F = 6 K = 7 P = 3
B = 7 G = 6 L = 5 Q = 8
C = 8 H = 6 M = 3 R = 8
D = 5 I = 8 N = 7 S = 6
E = 10 J = 7 0 = 9 T = 6
Dari angka-angka yang belum teratur kemudian dibuat array (urutan penyebaran), dari skor yang paling tinggi ke skor yang paling rendah.
Kelompok atas Kelompok bawah
10 6
9 6
8 6
8 6
8 6
8 6
7 5
7 5
7 5
7 3
10 orang 10 orang
Array ini sekaligus menunjukkan adanya kelompok atas ( ) dan kelompok bawah ( ) dengan pemiliknya sebagai berikut:

Kelompok atas Kelompok bawah B = 7 A = 5
C = 8 D = 5
E = 10 F = 6
I = 8 G = 6
J = 7 H = 6
K = 7 L = 5
N = 7 M = 3
O = 9 P = 3
Q = 8 S = 6
R = 8 T = 6
10 orang 10 orang

Perhatikan pada tabel analisis 10 butir soal 20 siswa.
Di belakang nama siswa di tuliskan huruf A atau B sebagai tanda kelompok. Hal ini untuk mempermudah menentukan dan .
= Banyaknya siswa yang menjawab benar pada kelompok atas (A),
= Banyaknya siswa yang menjawab benar pada kelompok bawah (B)
Sudah disebutkan diatas bahwa soal yang baik adalah soal yang dapat membedakan antara anak pandai dan anak bodoh, dilihat dari dapat dan tidaknya megerjakan soal.
Marilah kita lihat kita perhatikan analisis lagi, khusus untuk butir soal.

o dari kelompok atas yang dapat menjawab betul 8 orang.
o Dari kelompok bawah yang menjawab betul 3 orang.

Kita teapkan dalam rumus diskriminasi:


= 8

Maka D =
= 0,8 – 0,3
= 0,5
Dengan demikian maka ideks diskriminasi untuk soal ni 1 adalah 0,5
Sekarang kita perhatikan butir soal nomor 8:

maka D =
= 0,8 – 0,9
= -0,1



Butir soal ini jelek karena lebih banyak di jawab benar oleh kelompok bawah dibandingkan dengan jawaban benar dari kelompok atas. Ini berarti bahwa unutk menjawab soal dengan benar, dapat dialakukan dengan menebak.
“butir soal yang baik adalah butir-butir soal yang mempunyai indeks diskriminasi 0,4 sampai 0,7”

Klasifikasi daya pembeda:
D = 0,00 – 0,20 = jelek (poor)
D = 0,20 – 0,40 = cukup (satisfactory)
D = 0,40 – 0,70 = baik (good)
D = 0,70 – 1,00 = baik sekali (excellent)
D = negative, semuanya tidak baik, jadi semua butir soal yang mempunyai nilai D negative sebaiknya di buang saja.

3) Teknik Analisis Fungsi Distraktor

Pada saat membicarakan tentang tes obyektif bentuk multiple choice item telah dikemukakan bahwa pada tes obyektif multiple choice item tersebut untuk setiap butir item yang dikeluarkan dalam tes telah dilengkapi dengan beberapa kemungkian jawab, atau yang sering dikenal dengan istilah option atau alternatif.
Option atau alternatif itu jumlahnya berkisar antara tiga smpai dengan lima buah, dan dari kemungkinan – kemungkinan jawab yang terpasang pada setiap pada setiap butir item itu salah satunya adalah merupakan jawaban betul atu disebut dengan kunci jawaban; sedangakan sisanya adalah merupakan jawaban salah. Jawaban – jawaban salah itulah yang bisa dikenal denag istilah distraktor (distraktor merupakan jawaban pengecoh).
Tujuan utama dari pemasangan distraktor pada setiap butir item itu adalah agar dari sekian banyak testee yang mengikuti tes ada yang tertarik atau terangsang uuntuk memilihnya, sebab mereka menyangka bahwa distraktor yang mereka pilih itu merupakan jawaban betul. Jadi mereka terkecoh, menganggap bahwa distraktor yang terpasang pada item itu sebagai kunci jawaban item, pada hal bukan. Tentu saja,makin banyak testee yang terkecoh, maka kita dapat menyatakan bahwa distraktor itu semakin dapat menjalankan fungsinyadengan sebaik – baiknya. Sebaliknya, apabila distraktor yang dipasang pada setiap butir item itu tidak laku maksudnya tak ada seorang pun dari sekian banyak testee yang merasa tertarik atau terangsang untuk memilih distraktor tersebut sebagai jawaban betul, maka hal ini mengandung makna bahwa distraktor tersebut tidak menjalankan fungsinya dengan baik
Berikut ini dikemukakan sebuah contoh bagaimana cara menganalisis fungsi distraktor. Misalnya tes dibidang studi pendidikan moral pancasila diikuti oleh 50 siswa madrasah tsanawiyah. Bentuk soalnya adalah multiple choice dengan item sebanyak 40 butir, dimana setiap butir item dilengkapi dengan lima alternatif yaitu A,B,C,D dan E. dari 40 butir item tersebut diatas, khusus untuk butir item no 1, 2, dan 3 diperoleh pola penyebaran jawaban item sebagai berikut :

Nomor butir item Alternative atau option keterangan
A B C D E
1
2
3 4 6 5 30 5 ( ): kunci jawaban
1 44 2 1 2
1 1 10 1 37

Dengan pola penyebaran jawaban item sebagaimana tergambar pada analisis di atas maka dengan mudah dapat diketahui, berapa persen testee yang telah terkecoh untuk memilih distraktor yang dipasangkan pada item 1, 2 dan 3 yaitu:

1. Untuk kunci jawaban adalah D, sedangkan pengecoh/distraktornya adalah A, B, C, dan E.
Pengecoh A dipilih oleh 4 orang, berarti 4/50 * 100% = 8%. Jadi pengecoh A sudah dapat menjalankan fungsinya dengan baik, sebab angka persentasenya sudah lebih dari 5%
Pengecoh B dipilih oleh 6 orang , berarti 6/50 * 100% = 12% maka distraktornya berfungsi dengan baik.
Pengecoh C dipilih oleh 5 orang , berarti 5/50 * 100% = 10% maka distraktornya berfungsi dengan baik.
Pengecoh E dipilih oleh 5 orang , berarti 5/50 * 100% = 10% maka distraktornya berfungsi dengan baik.
Jadi keempat pengecoh yang dipasangkan pada item nomor 1 itu sudah dapat menjalankan fungsinya dengan sebaik – baiknya.

2. Untuk item no 2, kunci jawaban adalah B, sedangkan pengecohnya adalah A, C, D dan E
Pengecoh A dipilih oleh 1orang, berarti 1/50 * 100% = 2%. Jadi pengecoh A belum dapat menjalankan fungsinya dengan baik, sebab angka persentasenya kurang dari 5%
Pengecoh C dipilih oleh 2 orang , berarti 2/50 * 100% = 4% maka distraktornya tidak berfungsi dengan baik.
Pengecoh D dipilih oleh 1 orang , berarti 1/50 * 100% = 2% maka distraktornya tidak berfungsi dengan baik.
Pengecoh E dipilih oleh 2 orang , berarti 2/50 * 100% = 4% maka distraktornya tidak berfungsi dengan baik
Jadi keempat pengecoh yang dipasangkan pada item nomor 2 itu belum dapat dijalankan fungsinya seperti yang diharapkan.

3. Untuk item nomor 3, kunci jawaban adalah C, sedangkan pengecohnya adalah A, B, D, dan E
Pengecoh A,B dan D masing – masing dipilih oleh 1 orang testee = 2% berarti tiga buah pengecoh itu belum berfungsi.
Adapun pengecoh E dipilih oleh 37 orang, berarti 37 /50* 100% = 74% maka distraktornya berfungsi dengan baik.
Perlu ditambahkan, bahwa dengan menggunakan tabel analisis tersebut, disamping dapat diketahui berfungsi tidaknya distraktor, dapat diketahui derajat kesukaran item dan daya pembedanya.
Perhatikanlah kembali tabel analisis di atas. Untuk butir item nomor 1 testee yang mrnjawab benar sebanyak 30 orang, berarti indeks kes
ukaran itemnya (P)= 30/50= 0,60(drajat kesukaran itemnya baik, yaitu terletak antara 0,30 sampai 0,70). Untuk butir item nomor 2, jumlah testee yang jawabannya betul adalah 44 orang, berarti angka indeks kesukaran itemnya = 44/50= 0,88 (butir item nomor 2 ini termasuk kategori terlalu mudah). Sedangkan butir item nomor 3 dijawab betul oleh 10 orang testee: berarti angka indeks kesukarannya itemnya= 10/50 = 0,20 (butir item nomor 3 termasuk kategori terlalu sukar).


BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Analisis Item Soal adalah merupkan suatu prosedur yang sistematis, yang akan memberikan informasi-informasi yang sangat khusus terhadap butir tes yang akan kita susun.
Penganalisisan terhadap butir-butir soal dapat dilakukan dari tiga segi yaitu
1. Teknik analisis kesukaran item soal
Angka indeks kesukaran item ini dapat diperoleh dengan menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Dubois yaitu:
P =
Rumus lainnya adalah
P =
2. Teknik analisis daya pembeda
Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan antara siswa yang pandai (berkemampuan tinggi) dengan siswa yang bodoh (berkemampuan rendah).
Rumus untuk menentukan indeks diskriminasi adalah:


3. Teknik analisis fungsi distraktor
Jawaban – jawaban salah itulah yang bisa dikenal denag istilah distraktor (distraktor merupakan jawaban pengecoh).






DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan (Jakarta: PT Bumi Aksara. 2007).
Rafi’I,Suryatna. Teknik Evaluasi (Bandung: Penerbit Angkasa. 1990).
Rosnita. Evaluasi Pendidikan (Bandung: Cita Pustaka Setia. 2007).
Sudijono, anas. Pengantar evaluasi pendidikan (Jakarta: Rajawali Pers. 2009)
Toha, M. Chabib. Teknik Evaluasi Pendidikan (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 1996).

2 komentar:

  1. Ilmu harus disebarluaskan, dan Anda telah melakukannya. Semoga sukses

    BalasHapus
  2. Best casino games - Wooricasinos
    What 아트그라비아 장주님 games 숫자 야구 필승법 are made by Microgaming?What are the best casino 슬롯사이트 games?Does Microgaming have 승인전화없는 꽁머니 사이트 a mobile app?How do I play casino 토토 하는 법 games?

    BalasHapus